Nusantara Ujian bagi Liat Lenting Gerabah Plered

Usaha Rakyat

Ujian bagi Liat Lenting Gerabah Plered

Usia gerabah Plered, Purwakarta, Jawa Barat, sudah lebih dari seabad. Usaha ini pernah menjadi magnet bagi pencari kerja dari berbagai daerah. Kini, putaran nasibnya kembali diuji lewat minimnya regenerasi perajinnya.

Oleh Melati Mewangi
· 7 menit baca
KOMPAS/MELATI MEWANGI

Pekerja harian menjemur gerabah di Desa Anjun, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Senin (21/10/2019) siang.

Usia gerabah Plered, Purwakarta, Jawa Barat, sudah lebih dari seabad. Usaha ini pernah menjadi magnet bagi pencari kerja dari banyak daerah. Kini, putaran nasibnya kembali diuji waktu lewat minimnya regenerasi para perajinnya.

Senin (21/10/2019) siang, telepon seluler Yati (52), pemilik usaha keramik di Desa Anjun, Kecamatan Plered, Purwakarta, berulang kali berdering. Wajahnya semringah, tetapi nada suaranya terdengar cemas.

”Biasalah, ada pelanggan yang mau pesan pot anggrek dan mengingatkan tanggal jatuh tempo pesanan,” katanya sambil mengawasi pekerja.

Beberapa waktu belakangan, ia kewalahan menerima pesanan dari sejumlah daerah. Secara rutin ia mendapat pesanan 8.000 pot bunga anggrek dari Cikampek, Karawang, Jawa Barat. Ia menyanggupi dengan tenggat penyelesaian per dua minggu. Dalam sehari, perajin ditarget memproduksi 580 pot.

Tingginya pesanan seharusnya menjadi kabar baik. Namun, saat tak ada tenaga untuk mengerjakannya, semua jadi urusan yang sangat rumit.

”Banyak pesanan, tetapi tidak ada yang mengerjakan. Berat sekali mencari tenaga terampil yang tekun, sabar, ulet, dan telaten,” kata Yati.

Baca Juga : Industri Keramik Plered Kekurangan Perajin

Yati kini dibantu 20 pekerja, terdiri atas 9 perajin, 3 tenaga pencetak, 5 pekerja bagian finishing, dan 3 tenaga harian. Mayoritas berusia di atas 40 tahun. Jumlah itu lebih sedikit ketimbang sembilan tahun lalu. Kala itu, ada 40 orang yang bekerja padanya. Sebanyak 50 persen di antaranya perajin.

Akan tetapi, keterbatasan pekerja tidak menghentikan usaha Yati terus bergulir. Di antara keterbatasan pekerja, usaha turun-temurun itu masih berproduksi tepat di belakang toko gerabah miliknya. Tumpukan tanah liat dan tempat pencetakan pot gerabah tampak terletak berdekatan.

Lio atau tempat pembakaran gerabah masih mengepulkan asap. Para perajin sibuk bekerja membentuk tanah liat, mengeringkan, mencetak, membakar, dan memberi sentuhan terakhir pada gerabah.

Yati mengatakan, usaha ini akan terus dipertahankan. Oleh karena itu, selagi tungku terus menyala, ia aktif mencari bakal perajin muda hingga ke pelosok Purwakarta.

Namun, mencari perajin muda tidak mudah. Anak muda seperti kehilangan semangat saat ditawari bekerja jadi perajin. Mereka lebih memilih jadi kuli atau buruh bangunan dengan upah Rp 600.000-Rp 700.000 per minggu. Sementara upah perajin gerabah hanya Rp 400.000-Rp 600.000 per minggu.

Teu aya (tidak ada) yang tertarik kerja begini. Katanya, tidak sabar dan telaten. Upah tak sebanyak buruh pabrik, masih harus kotor-kotor,” ucap Yati sambil menirukan pemuda yang ditawarinya pekerjaan.

Teu aya (tidak ada) yang tertarik kerja begini. Katanya, tidak sabar dan telaten. Upah tak sebanyak buruh pabrik, masih harus kotor-kotor.

Data Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengembangan Sentra Keramik Dinas Perindustrian dan Perdagangan Purwakarta menguatkan hal itu. Jumlah tenaga kerja gerabah tahun 2014-2016 sekitar 3.000 orang. Pada 2017, jumlahnya turun menjadi 2.560 orang, lalu anjlok lagi menjadi 2.406 orang setahun kemudian. Hal itu diikuti penurunan jumlah pelaku usaha. Dari 268 unit di tahun 2014 menurun jadi 205 unit pada 2018.

Gairah itu kontras dibandingkan dengan saat gerabah Plered tumbuh. Diyakini dirintis enam warga, Sarkun, Aspi, Warsya, Entas, Suhara, dan Ki Dasjan, pada 1904, gerabah jadi tumpuan ekonomi warga. Saat itu gerabah dibuat sederhana, mulai dari cobek, kendi, dan tempayan.

Para perintisnya tak sekadar membuat gerabah, tetapi juga menciptakan kekhasan. Salah satunya durasi pembakaran berbeda. Di Plered, gerabah berbahan baku tanah liat itu dibakar pada suhu 900-1.100 derajat celsius selama 18-24 jam. Di daerah lain, gerabah biasanya dipanaskan hanya 6-8 jam.

Pembakaran lama dapat membuat gerabah lebih awet dan tak mudah retak. Keunggulan itu didukung kandungan tanah liat Plered yang memiliki komposisi mineral illete dan chlorette yang dominan. Hal itu berpengaruh terhadap proses pembentukan dan pembakaran menjadi lebih lama. Dominannya mineral tersebut membuat kelentingan dan daya tahan kejut yang lebih baik ketimbang produk gerabah di sentra lainnya.

Usaha rakyat itu mampu menembus pasar luar negeri untuk pertama kali melalui keramik corak tembaga karya Suratani. Diawali dari Singapura pada akhir 1985, pembeli berdatangan dari Malaysia, Selandia Baru, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

Saat ini bentuk gerabah dan keramik kian beragam. Tak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga sebagai hiasan dan dekorasi. Para perajin juga terus berinovasi untuk menghasilkan desain yang baru, khususnya untuk menarik minat pembeli mancanegara.

Berdasarkan catatan Kompas, tahun 1985 dinilai sebagai salah satu tonggak bersejarah keramik Plered. Usaha rakyat itu mampu menembus pasar luar negeri untuk pertama kali melalui keramik corak tembaga karya Suratani. Diawali dari Singapura pada akhir 1985, pembeli berdatangan dari Malaysia, Selandia Baru, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

Demam corak tembaga pun merebak di sentra Plered. Tak sedikit perajin dan pengusaha yang beralih dari produk konvensional, seperti celengan, pot, kendil, dan tempayan, ke bentuk dan corak yang digemari pembeli asing.

KOMPAS/MELATI MEWANGI (MEL) 21-10-2019

Perajin menggarap pesanan gerabah di Desa Anjun, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Senin (21/10/2019) siang. Saat musim kemarau, pesanan gerabah meningkat. Dalam sehari mereka mampu membuat 20-30 gerabah berukuran sedang dengan upah Rp 4.000-Rp 6.000.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Next-level goal requires next-level knowledge

Harian Kompas x The Straits Times Get a two-for-one digital subscription deal from the two biggest news publisher in Indonesia and Singapore.

Ekspor meredup

Kini, seperti halnya minat pemuda, ekspor tak marak lagi. Ekspor meredup. Keterbatasan bahan bakar, sumber daya manusia, hingga infrastruktur diduga jadi penyebabnya. Sebagai gantinya, pasar lokal tumbuh mekar. Perbandingan permintaan pasar lokal dan luar 70:30.

Pada 2014, para perajin gerabah Plered masih mampu mengirim hingga 75 kontainer. Per Oktober 2019, tercatat hanya sekitar 55 kontainer yang terkirim. Satu kontainer berisi 2.500-4.000 gerabah beragam jenis dan ukuran.

Eman Sulaeman (50), perajin dan eksportir keramik di Desa Anjun, Kecamatan Plered, mengakui, permintaan ekspor tengah surut. Tahun ini, ia hanya mengirim tiga kontainer dari biasanya enam kontainer. Belakangan ia tidak memproduksi gerabah di bengkel karena tiada pesanan. Ia berencana untuk mengalihkan usahanya sesuai dengan kebutuhan pasar lokal.

Baca Juga : Terganggu Musim Hujan Produksi Gerabah Menyusut

Kepala Bidang Usaha Kecil Menengah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Purwakarta Ahmad Nizar mengatakan, kapasitas produksi keramik Plered masih jauh untuk memenuhi tingginya permintaan pasar. Meski produksi bertambah, tetap saja jumlahnya belum ideal.

Kapasitas produksi keramik dan gerabah tahun 2014 sebanyak 900.000 buah, sedangkan tahun 2015 sebanyak 1.266.000 buah. Jumlah produksi cenderung fluktuatif, pada 2017 menurun menjadi 1.135.999 buah dari tahun sebelumnya 1.420.000 buah. Namun, produksi meningkat lagi menjadi 1.230.000 buah pada 2018. Minimnya regenerasi perajin menghambat produktivitas.

”Idealnya, produksi mencapai 5,68 juta buah” kata Nizar. Disperindag Purwakarta terus mendorong pelatihan bagi warga, tetapi hal itu dirasa tak efektif jika tidak ada kemauan dari warga untuk menekuni kerajinan tersebut. Ia pun berencana bekerja sama dengan perguruan tinggi terkait analisis usaha keramik. Integrasi kuat dari hulu hingga ke hilir menjadi kunci.

”Kemampuan organisasi dan manajemen usaha para perajin serta sikap wirausaha yang baik perlu ditingkatkan supaya generasi penerus bisa tercipta dan usaha keramik ini tetap berkesinambungan,” ucap Nizar.

KOMPAS/MELATI MEWANGI

Pekerja harian menata gerabah untuk dibakar di dalam tungku, di Desa Anjun, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Senin (21/10/2019) siang. Saat musim kemarau, pesanan gerabah meningkat. Dalam sehari mereka mampu membuat 20-30 buah gerabah ukuran sedang dengan upah bekisar Rp 4.000-Rp 6.000 per buah.

Semangat tersebut setidaknya tumbuh dalam diri Asep Supriatna (39), pemilik usaha gerabah lainnya di Plered. Dia adalah generasi keempat penerus usaha gerabah keluarganya.

Beberapa tahun lalu, ia memiliki empat perajin. Kini hanya tersisa dua orang. Bengkel gerabah itu biasanya ramai dengan obrolan para pekerja.

”Kondisinya sangat sulit untuk sekarang dan ke depan. Tidak tahu lagi bagaimana mencari tenaga ahli yang terampil. Yang pasti tidak boleh berhenti,” ucapnya.

Perlahan ia mulai meniti langkah meneruskan estafet usaha keluarga ini kepada kedua anaknya, Radith (15) dan Nazwa (13). Lewat mereka, darah muda, diharapkan bisa menyelamatkan bisnis turun-temurun itu dari kepunahan.

Sejauh in perkembangannya positif. Bagi Radith, tempat favorit setiap akhir pekan adalah bengkel gerabah ayahnya. Tangan-tangan mungilnya terbiasa dilumuri tanah liat sejak duduk di bangku SD. Radith bahkan sudah menunjukkan kemampuannya lewat gerabah sederhana, seperti celengan dan vas bunga berukuran kecil buatannya.

Saat membuat gerabah, perasaan bahagia selalu mengikuti. Saya ingin meneruskan usaha keluarga ini.

”Saya paling suka memilin tanah liat menjadi bentuk detail,” katanya.
Radith mengatakan, guru terbesarnya adalah ayah dan para perajin gerabah di bengkelnya. Jika ada proses yang tak dipahami, ia akan langsung bertanya kepada mereka. Berada di lingkungan yang tepat membuat tekadnya kian mantap membuat gerabah.

Cita-cita bahkan sudah digantungkan setinggi langit. Di usia muda, ia ingin melanjutkan kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain di Institut Teknologi Bandung. Di sana, dia yakin akan mendapat ilmu baru tentang teknik, desain, dan jaring pasar yang lebih luas.

”Saat membuat gerabah, perasaan bahagia selalu mengikuti. Saya ingin meneruskan usaha keluarga ini,” ujar Radith mantap.

Di usia yang semakin tua, putaran gerabah Plered terlalu manis untuk dilupakan. Generasi muda dengan segala inovasinya berpeluang membawa masa jaya datang lagi.

Baca Juga : Purwakarta Mulai Gali Potensi Batik Khas

Editor Cornelius Helmy Herlambang
Bagikan