Fotografi Foto Kaku yang Ditunggu
KOMPAS
Foto Cerita

Foto Kaku yang Ditunggu

Oleh WISNU WIDIANTORO ·

Di halaman muka edisi Kamis (24/10/2019), harian Kompas menampilkan foto berukuran tujuh kolom. Foto tujuh kolom tentang Kabinet Indonesia Maju bersama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin itu tampil hampir setengah halaman koran. Foto karya wartawan foto Kompas, Wawan H Prabowo, itu menyertai berita tulis yang juga bercerita seputar Kabinet Indonesia Maju.

KOMPAS

Tampilan halaman 1 harian Kompas edisi Kamis (24/10/2019).

Walaupun harian Kompas mempunyai banyak foto terkait pelantikan yang lebih tidak formal, foto bersama yang telihat kaku dan protokoler tetaplah dipilih. Faktor sejarah, nilai berita dan foto bersama pertama bagi Kabinet Indonesia Maju (KIM) menjadi pertimbangan.

Peristiwa itu diabadikan di tangga Istana Merdeka, Jakarta, dalam sesi foto bersama sesaat setelah pelantikan menteri. Sesi foto itu digelar untuk menyediakan foto yang memuat semua anggota kabinet. Momen bersama ini menjadi foto paling ditunggu media. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya wartawan foto dan kameramen televisi yang hadir untuk mengabadikan momen itu.

Berbicara tentang foto bersama, sesi foto ”mejeng” ini memang sudah lumrah dilakukan sejak dahulu. Sejak zaman pemerintahan Presiden Soekarno, foto bersama kabinet sudah menjadi barang umum. Walaupun terlihat berbeda secara kerapian, penataan posisi orang, gaya orang-orang dalam foto terlihat sama saja, kaku

IPPHOS

Pada 14 Agustus 1955, Presiden Soekarno berfoto bersama setelah menerima Kabinet Burhanuddin Harahap di Istana Bogor.

KOMPAS/JB SURATNO

Foto Presiden Soeharto bersama Kabinet Pembangunan VI di tangga Istana Merdeka, Jakarta, pada 19 Maret 1993.

KOMPAS/JULIAN SIHOMBING

Foto anggota Kabinet Indonesia Bersatu di Istana Merdeka seusai dilantik, Kamis, 21 Oktober 2004.

Dari tahun ke tahun, gaya foto bersama presiden, wakil presiden, dan kabinetnya selalu tidak berubah. Presiden, wakil presiden, dan menterinya berdiri di anak tangga Istana Merdeka. Mereka diatur sedemikian rupa sehingga setiap orang di dalam foto tidak terhalangi oleh orang di depannya.

Sesi foto bersama dengan gaya seperti di atas bukan saja dilakukan di acara kepresidenan. Di acara-acara di berbagai tingkatan, sesi foto bersama selalu dilakukan untuk mengabadikan momen kebersamaan dalam suatu peristiwa. Bahkan, di tingkat dunia, dalam acara pertemuan tingkat tinggi pemimpin negara-negara (KTT), sesi foto bersama juga selalu diagendakan.

Dalam KTT, sesi foto bersama diikuti oleh pemimpin negara atau perwakilan negara peserta yang hadir. Biasanya sesi ini dilakukan sesaat sebelum acara pembukaan. Sama seperti dalam kabinet, sesi foto bersama ini juga telah dipersiapkan sebelumnya. Sebelum sesi pemotretan dimulai, petugas protokoler masing-masing negara akan mencari lokasi di mana pemimpin mereka akan berdiri. Ini untuk menghindari terjadinya ”kekacauan” karena masalah mencari lokasi berdiri saat sesi pemotretan.

 

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Petugas membawa replika bendera peserta KTT Luar Biasa ke-5 OKI untuk memandu pemimpin negara yang akan mengikuti sesi foto bersama pada 7 Maret 2016.

Bahkan, jauh hari sebelum pelaksanaan KTT, sesi foto bersama sudah dipikirkan rancangannya, baik oleh panitia maupun protokoler kepresidenan. Segala detail tentang pelaksanaan foto bersama dipersiapkan sedemikian rupa, mulai dari alur jalan, lokasi berdiri, latar belakang, hiasan, bahkan jam pemotretan. Termasuk juga lokasi tempat wartawan memotret dan merekam peristiwa juga dipikirkan. Intinya, sesi ini dirancang sedemikian rupa agar menghasilkan foto yang sempurna dan layak tayang di media massa.

Namun, dalam sesi foto bersama ASEAN Leaders Gathering yang digelar di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018), apa yang sudah direncanakan ternyata tidak menghasilkan foto yang maksimal. Sesi itu digelar sekitar pukul 16.00 di pinggir indahnya pemandangan pantai di Nusa Dua, Bali. Alih-alih mendapatkan foto sempurna di pingir pantai, sesi foto itu malah menghasilkan foto belang. Ya, foto belang, karena sebagian besar tubuh para pemimpin ASEAN tertimpa oleh bayangan gedung yang ada di sekitar lokasi pemotretan.

Terik dan posisi matahari yang telah condong ke barat  membuyarkan hasil pemotretan. Posisi berdiri kepala negara yang terlalu dekat dengan bangunan membuat mereka ”tertimpa” bayangan hotel. Dan, pekatnya bayangan membuat cahaya lampu kilat tidak berdaya.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Bayangan bangunan menimpa tubuh Presiden Joko Widodo dan pemimpin negara-negara di ASEAN dan tamu lainnya saat foto bersama dalam rangkaian ASEAN Leaders Gathering di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018).

Dalam situasi itu, pilihan wartawan foto hanya ada dua. Pertama, membuat foto dengan wajah dan pemandangan pantai menjadi normal, tetapi tubuh gelap atau kedua, tubuh normal, tetapi wajah dan pemandangan pantai overexpose. Saya pun tetap memencet tombol rana dan memilih opsi kedua.

Baca juga: Kisah di Balik Foto Bersejarah (1)

Baca juga: Pencatat Sejarah yang Tidak Tercatat Sejarah (2)