Opini Artikel Opini Nasib ”Ngenes” Generasi Agnez

Refleksi Keindonesiaan

Nasib ”Ngenes” Generasi Agnez

Dalam adab ”asli” negeri ini yang Bahari, tidak dikenal itu istilah mulai dari definisi, peran, hingga fungsi ”minoritas”. Banyak atau sedikit itu bukan masalah, kita sama, karena egaliterianisme di Bahari itu niscaya.

Oleh Radhar Panca Dahana
· 6 menit baca
KOMPAS

Radhar Panca Dahana

Sebenarnya apa itu ”darah Indonesia”, indonesian blood, istilah yang diaku tak dimiliki penyanyi Agnez Mo(nica) dan membuatnya viral di media sosial nasional? Seperti apa ”darah” itu? Bagaimana riwayat atau contoh-contohnya? Atau… memangnya ada ”darah Indonesia” itu?

Dalam banyak kesempatan keliling negeri, bertemu dengan mahasiswa atau generasi ”Y” yang juga diwakili Agnez Mo, saya mendapati banyak kenyataan yang tidak serupa kasusnya, tetapi sebentuk dalam makna atau substansinya. Ketika saya bertanya satu per satu muasal etnik mereka, setidaknya orangtua mereka, dengan tegas mereka memberikan jawaban. Termasuk jika orangtuanya berasal dari (sub)etnik yang berbeda.

Namun, ketika saya tanyakan masing-masing, apa arti atau makna dari (sub)etnik yang bersangkutan, tak satu pun dapat menjawab, terlebih secara adekuat atau meyakinkan, bahkan bagi dirinya sendiri. Umumnya jawaban pendek dan berisi data sangat ringkas yang bersifat geografis atau administratif. Namun, (sub)etnik sebagai identitas, sebagai sebuah nebula gagasan, sebagai khazanah adat atau budaya (semacam) apa, seluruh peserta mengakui: tidak paham.

Namun, (sub)etnik sebagai identitas, sebagai sebuah nebula gagasan, sebagai khazanah adat atau budaya (semacam) apa, seluruh peserta mengakui: tidak paham.

LAILY RACHEV/SEKRETARIAT PRESIDEN

Penyanyi Agnes Monica yang populer dengan nama Agnez Mo sedang membuat video blog (vlog) bersama Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Karena berbagai sebab, antara lain pendidikan formal yang sangat berorientasi pada kecerdasan material (saintifik), serbuan dan internalisasi gaya hidup hingga budaya global yang kian kuat belakangan, perubahan yang terjadi pada lingkungan, rumah tangga, hingga perilaku lembaga atau figur penting yang kian meninggalkan adab, membuat generasi ”Agnez Mo”, bahkan juga di atasnya (”X”), mengalami amnesia total secara kultural.

Inilah yang mungkin sejak lama para tetua di Jawa prihatin pada generasi penerusnya yang tetap ”wong jowoning ilang jawane”. Situasi yang berlaku pada orang Batak yang hilang kebatakannya dan seterusnya. Maka, secara sederhana, saya memberikan imbauan mengikuti kenyataan aktual di atas, untuk mereka kembali pada akar budaya atau tradisinya itu, pada realitas primer atau primordialnya. Mengenali kembali watak, aturan, hingga penyikapan terhadap hal-hal baru yang selalu datang dan terbiasa dijadikan sumber penyegaran ”adab” oleh para leluhur di adat mereka masing-masing.

”Tapi kita, kan, sekarang Indonesia, Pak?” sergah seseorang. ”Mengapa kita harus balik ke dunia primordial, bukan justru menegaskan adab dan budaya Indonesia kita?” Dengan sedikit pengantar, entah dimengerti atau tidak, dengan baik, saya menjawab sergahan dan pertanyaan itu dengan sebuah pernyataan tegas, ”Maaf saja, yang namanya (ke)budaya(an) Indonesia itu tidak, sekurangnya, belum ada.”

KOMPAS/NINA SUSILO

Agnez Mo diwawancara seusai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Arti ”Indonesia”

Indonesia ada selama ini, mari kita jujur, masih sebagai penamaan atau ”identitas” dari sebuah negara (modern) baru. Dan, bisa dilekatkan pada perangkat-perangkat kenegaraan yang tercipta menyusul dari proklamasi negara baru itu. Termasuk bahasa. Tapi adat dan budaya, sejak Polemik Kebudayaan awal 1930-an dulu hingga hari ini, belum ada kejelasan identifikatif, formulatif, atau definitif. Belum ada yang mampu, tepatnya kita belum mampu.

Kalaupun kita bisa mengatakan ”saya Indonesia” sebagai sebuah acuan identitas, tetap saja kita tidak mampu menjawab apa yang disebut identitas itu, apa makna ”Indonesia” itu. Kecuali, sekali lagi, deskripsi pendek tentang realitas geografis atau administratif yang notabene adalah batasan atau acuan politis sebagai implikasi dari fakta modern bangsa-bangsa di Nusantara menjadi sebuah negara.

Kalaupun kita bisa mengatakan ”saya Indonesia” sebagai sebuah acuan identitas, tetap saja kita tidak mampu menjawab apa yang disebut identitas itu, apa makna ”Indonesia” itu.

Jadi, sebagaimana pemaknaan ”adab” atau ”budaya Indonesia” yang masih kabur (entah larinya ke mana), istilah atau yang dianggap acuan oleh Agnez Mo sebagai ”darah Indonesia” itu juga absurd, alias tidak eksis.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Dapatkan Cashback 30% dari OVO!

Pakai OVO sebagai metode pembayaran di Gerai Kompas, dapatkan cashback 30% (maksimal Rp10.000) di Kompas.id! Hanya berlaku hingga 31 Desember 201

Ketika ada seorang migran dari Arab, China, India, atau mana pun negeri asing berdiam turun-menurun di negeri ini, kawin-mawin dengan sesama anggota puak atau etniknya saja, apakah mereka ”orang Indonesia”?

KOMPAS/DWI AS SETIANINGSIH

Agnez Mo, 2017.

Secara kategoris-politis: betul. Namun, secara etnik, mereka tetap teguh pada identitas etnikalnya yang Arab, India, atau China. Apa mereka punya ”darah Indonesia”? Yang pasti, jika merujuk atau mengacu etniknya, mereka berdarah ”China”, ”Arab”, atau ”India”. Seperti Agnez yang mengaku darahnya campuran: Jerman, Jepang, dan China. Apa pun darah itu, kita menerima mereka sebagai bagian dari organisme bangsa ini, mereka adalah ”Kita”. Hendak secara modern disebut ”orang Indonesia”, monggo kerso, fain-fain saja.

Apakah mereka minoritas, seperti diaku Agnez juga banyak kalangan lain? Posisinya mungkin sama dengan 400 suku di Papua, yang jumlahnya masing-masing sangat sedikit, jauh lebih sedikit ketimbang ”darah asing” orang-orang Indonesia di atas. Sama minornya dengan suku Dayak, suku Gayo, suku Solor, dan seterusnya. Bisa jadi seluruh penghuni negeri ini adalah minoritas, setidaknya jika berhadapan dengan suku Jawa yang dominan dalam jumlah itu.

Jadi, apa masalahnya dengan jumlah sedikit yang secara peyoratif disebut dengan istilah antropologis-sosiologis ”minoritas”? Kenapa harus terjebak, bahkan berprasangka dengan kategorisasi ilmu sosial yang punya kegunaan berbeda di negeri asalnya.

Dalam adab ”asli” negeri ini yang Bahari, tidak dikenal itu istilah mulai dari definisi, peran, hingga fungsi ”minoritas”. Banyak atau sedikit itu bukan masalah, kita sama, karena egaliterianisme di Bahari itu niscaya. Yang menentukan strata seseorang di adab kita ini adalah prestasi atau rekam jejaknya lewat amal atau kemaslahatannya di tengah publik.

Yang menentukan strata seseorang di adab kita ini adalah prestasi atau rekam jejaknya lewat amal atau kemaslahatannya di tengah publik.

Alien(asi) Agnez

Jelaslah bagi kita sekarang, Agnez Mo bukan menafikan atau mengingkari apalagi mengkhianati keindonesiaannya, sebagai fakta sosiologis, historis, hingga politis. Yang terjadi padanya adalah ketidakpahaman tentang makna kultural dari dirinya sendiri. Kekeliruan paham bentuk peradaban hingga ia menjadi sumber identitas seseorang.

FERGANATA INDRA RIATMOKO

Sejumlah artis dari kalangan generasi muda, yakni Al Ghazali, Prilly Latuconsina, Afgan, Agnez Mo, Maudy Ayunda, dan Tulus, tampil dalam peluncuran ponsel pintar di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis (29/3) malam.

Pertanyaan menarik: mengapa penyanyi cantik yang konon punya range suara di tingkat whistle itu, tidak paham? Tentang dirinya, adabnya, hingga budaya yang membesarkannya di negeri ini? Jawaban termudah: ia mendapat pendidikan, dan pengajaran di dalamnya, yang tidak mendekatkan—jika tidak kita bilang menjauhkan atau mengalienasi—dia, juga generasinya, dari kenyataan budaya yang ada padanya. Maka, ia mungkin berbudaya, tetapi tidak tahu dan tidak mampu menjelaskan budayanya sendiri.

Agnez menjadi simbol atau wakil dari generasi yang copot dari akarnya, yang sayangnya akar yang ditinggalkannya itu punya ubi yang gemuk dan gurih.

Maka, sebaiknya siumanlah para penanggung jawab pendidikan di negeri ini, dari banyak kabinet dan pemimpinnya, bagaimana sukses program pendidikan yang sangat mahal itu, adalah membuat ”urang Sunda leungit sundana”. Sukses menciptakan generasi-generasi yang kini menjadi pengisi utama etalase kebudayaan mutakhir dengan perilaku ajaib mereka, yang degil, mengerikan, telengas, inhuman, dan banyak contoh yang hampir tak ada presedennya dalam sejarah kebudayaan, peradaban di negeri ini.

Saya kurang paham, apakah situasi ini, salah satu situasi atau problema kritis dan darurat mahakompleks ini, bisa diselesaikan dalam satu ronde saja? Biarpun dengan terobosan teknologis luar biasa, berbasis teknologi komputasi, internet, atau aplikasi, misalnya? Kita semua tahu, siapa yang bertanggung jawab untuk menjawab ini pada akhirnya. (RADHAR PANCA DAHANA, BUDAYAWAN)