Humaniora Perilaku Keseharian Masyarakat Belum Dukung Upaya Pelestarian Lingkungan

LINGKUNGAN HIDUP

Perilaku Keseharian Masyarakat Belum Dukung Upaya Pelestarian Lingkungan

Upaya pelestarian lingkungan hidup di Indonesia menghadapi tantangan berupa minimnya kepedulian masyarakat. Perilaku keseharian masyarakat belum sepenuhnya mendukung upaya tersebut.

Oleh Debora Laksmi Indraswari
· 4 menit baca
KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA

Sebagian besar warga sudah sadar membaung sampah pada tempatnya, kemudian diangkut dengan truk menuju tempat pembuangan air sampah, tetapi masih ada sejumlah warga, juga membuang sampah sembarangan di dalam sungai. Tanggungjawab semua pihak termasuk kesadaran warga sendiri menjaga lingkungan.

Perilaku manusia yang kurang peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup telah terbukti mengakibatkan permasalahan ekologi. Berbagai jenis bencana akibat perilaku manusia kian sering terjadi. Bencana itu antara lain banjir akibat drainase tersumbat, polusi udara dari asap pabrik atau kendaraan bermotor, bau tak sedap dari timbunan sampah, serta menipisnya cadangan energi sebagai dampak buruk perilaku manusia.

Badan Pusat Statistik mencoba merekam perilaku masyarakat dalam mengelola lingkungan hidup melalui sejumlah pertanyaan dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional. Hasilnya, masyarakat Indonesia belum bisa dibilang ”sadar lingkungan”.

Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan tecermin pada hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2017. Pengukuran kepedulian lingkungan oleh rumah tangga dalam Susenas ditakar dengan menggunakan 17 indikator yang digolongkan menjadi empat kelompok. Keempatnya adalah penggunaan energi, penggunaan air, pengelolaan sampah, dan transportasi.

Rumah tangga yang disurvei tergolong peduli lingkungan jika minimal melakukan 6 dari 17 indikator. Sebanyak 17 indikator tersebut dijadikan Indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup (IPKLH) untuk mengukur tingkat ketidakpedulian masyarakat. Semakin rendah hasilnya (mendekati angka nol), semakin tinggi kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya.

Hasilnya, IPKLH Indonesia tahun 2018 mencapai 0,510. Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat belum cukup peduli terhadap lingkungannya. Melihat dari proporsi rumah tangga, hasil Susenas juga menunjukkan, ada hampir separuh rumah tangga (40,5 persen) di Indonesia yang belum peduli lingkungan. Hal ini terindikasi melalui berbagai perilaku keseharian warga.

Data Susenas memperlihatkan, lebih dari 50 persen masyarakat telah mengetahui, bahkan setuju, terhadap perilaku sehari-hari yang membantu menjaga kelestarian lingkungan. Mereka setuju apabila menghemat air, menggunakan air bekas, menggunakan matahari sebagai sumber pencahayaan, dan mematikan barang elektronik ketika tidak digunakan dapat menjaga kelestarian lingkungan.

Mengenai tindakan pengelolaan sampah, pemakaian tas belanja sendiri, dan penggunaan transportasi umum, mereka pun menunjukkan keberpihakan. Namun, tingkat pengetahuan terhadap kelestarian lingkungan belum diikuti dengan perilaku peduli lingkungan hidup.

Mengelola sampah
Perilaku yang paling parah adalah kebiasaan mengelola sampah. Hal ini ditunjukkan dengan skor 0,72, paling tinggi dibandingkan dengan dimensi penilaian lainnya.

Ketika membuang sampah, masih banyak warga yang menumpuk sampah kemudian membakarnya. Cara tersebut dilakukan untuk mengurangi tumpukan sampah yang menggunung. Selebihnya, masyarakat membuang sampah ke sungai dan selokan.

Padahal, membuang sampah ke sungai mengakibatkan saluran air tersumbat dan menimbulkan banjir. Selain itu, sampah yang sebagian di antaranya berupa plastik lebih sulit terurai sehingga mengancam keseimbangan ekosistem.

Produksi sampah plastik di Indonesia cukup besar, yakni 175.000 ton per hari. Dengan jumlah tersebut, dalam satu tahun, sampah plastik di Indonesia mencapai 63,9 juta ton (Kompas, 10 Maret 2019).

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Dapatkan Cashback 30% dari OVO!

Pakai OVO sebagai metode pembayaran di Gerai Kompas, dapatkan cashback 30% (maksimal Rp10.000) di Kompas.id! Hanya berlaku hingga 31 Desember 201

Peringkat kedua terkait aspek transportasi (skor 0,71). Penggunaan transportasi pribadi lebih menonjol dibandingkan dengan transportasi umum. Hal ini menunjukkan kurang pedulinya masyarakat akan emisi gas yang berdampak terhadap lingkungan.

Masifnya penggunaan kendaraan pribadi menyebabkan tingginya konsumsi energi bahan bakar minyak (BBM) dan tingginya pencemaran udara. Dibandingkan dengan tahun 1998, kualitas udara Indonesia pada 2016 menurun.

Laporan Air Quality Life Index (AQLI) menyebutkan, pada 1998, rata-rata kandungan PM 2,5 tahunan di udara adalah 7,95 mikrogram per meter kubik. Adapun pada 2016, kandungannya meningkat menjadi 21,6 mikrogram per meter kubik. Artinya, terdapat peningkatan kandungan polutan PM 2,5 di udara Indonesia sebesar 171 persen.

PM 2,5 adalah sejenis polutan padat yang berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer dan kebanyakan mengendap di saluran pernapasan bagian atas sehingga menyebabkan iritasi. Bahaya polusi ini dikaitkan dengan ancaman penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kian tinggi kandungan PM 2,5 di udara, ancaman potensi kematian akibat ISPA kian besar.

Kompas/Hendra A Setyawan

Beragam jenis bonsai dipamerkan dalam Pameran Keanekaragaman Hayati Nusantara di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (10/11/2019). Pameran yang berlangsung selama satu bulan ini digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai bagian dari peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Indonesia memiliki ekosistem unik dengan keragaman spesies yang melimpah.

Perlu sosialisasi
Menumbuhkan perilaku cinta lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Sosialisasi atau kampanye lingkungan hidup, terutama oleh pemerintah, harus mampu menumbuhkan kebiasaan masyarakat untuk mencintai lingkungan.

Upaya pelestarian lingkungan sudah dilakukan, terutama oleh pemerintah dan LSM, melalui regulasi, imbauan, hingga kampanye tentang lingkungan. Pemerintah mengeluarkan peraturan-peraturan terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup, seperti pengelolaan sampah dan air.

Dalam implementasinya, peraturan tersebut juga terwujud dalam kampanye hemat energi dan imbauan berupa papan peringatan. Bahkan, kepedulian terhadap lingkungan hidup masuk ke dalam mata pelajaran di sekolah.

Upaya tersebut dilengkapi kontribusi LSM dan komunitas pencinta lingkungan dengan melakukan kampanye peduli lingkungan. Hal yang gencar dikampanyekan antara lain penggunaan sedotan alumunium untuk mengganti sedotan plastik, pemakaian tas untuk belanja, dan penggunaan transportasi massal.

Tingkat pengetahuan terhadap kelestarian lingkungan belum diikuti dengan perilaku peduli lingkungan hidup.

Kesadaran warga juga digugah untuk menyetor sampah anorganik ke bank sampah. Jika melakukan hal ini, ada insentif yang diterima warga.

Tujuan kampanye tersebut ialah membangun kesediaan warga untuk memilah sampah. Kesediaan mereka menjadi modal positif bagi pemerintah dalam rangka menyusun kebijakan pengolahan sampah yang lebih modern.
(Litbang Kompas)