Metropolitan Jumlah Korban Meninggal karena Bencana di Bogor Bertambah

Kebencanaan

Jumlah Korban Meninggal karena Bencana di Bogor Bertambah

Korban meninggal akibat banjir dan longsor di Bogor, Jawa Barat, bertambah. Seorang warga ditemukan tertimbun material longsor di lokasi bencana. Sementara itu, masih ada tiga warga lain yang belum ditemukan.

Oleh Aguido Adri
· 3 menit baca
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Kondisi permukiman warga di Desa Kalong Sawah, Jasinga, Bogor, yang luluh lantak diterjang banjir bandang, Selasa (7/1/2020). Longsor di hulu Sungai Cidurian yang menimbulkan banjir bandang, Rabu (1/1/2020), juga menerjang wilayah Jasinga ini.

JAKARTA, KOMPAS — Salah satu korban bencana banjir dan longsor di Desa Kalongsawah, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, berhasil ditemukan regu penolong. Dengan penemuan ini, sudah ada 13 korban meninggal yang ditemukan akibat banjir dan longsor di Kabupaten Bogor.

Sementara ini, masih ada tiga korban lain di Kecamatan Sukajaya belum ditemukan tim penolong. Korban terakhir yang ditemukan bernama Muhamad Hilman (15), warga Desa Kalongsawah. Dia hilang beberapa hari akibat hanyut terbawa banjir dari luapan Sungai Cidurian dan ditemukan warga Kampung Roke, Desa Neglasari, Kecamatan Jasinga, di sekitar kebun pisang di bibir Sungai Cidurian awal Januari 2020.

”Aparat kepolisian, Tentara Nasional Indonesia, unsur pemerintah, dan warga langsung mengevakuasi korban. Setelah mengidentifikasi korban, salah satunya ciri-ciri pakaian yang dikenakan korban, berkaus hitam dan celana training biru. Benar, itu adalah Hilman. Sudah kami serahkan kepada pihak keluarga,” kata Lukito, Rabu (15/1/2020).

Kepala Kepolisian Sektor Jasinga Ajun Komisaris Lukito Sadoto mengatakan, jasad Hilman ditemukan warga setempat, Selasa (14/1/2020) pukul 13.00. Jasad korban tertimbun tanah dan hanya terlihat bagian lengannya.

Baca juga: Sebagian Korban Longsor Bogor Tinggalkan Pengungsian

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Sisa-sisa sapuan banjir bandang di Desa Kalong Sawah, Jasinga, Bogor, Selasa (7/1/2020). Longsor di hulu Sungai Cidurian yang menimbulkan banjir bandang, Rabu (1/1/2020), juga menerjang wilayah Jasinga ini.

Berdasarkan cerita keluarga, kata Lukito, Hilman hanyut terbawa arus deras Sungai Cidurian saat peristiwa banjir dan longsor, Rabu (1/1/2020), sekitar pukul 06.00. Saat itu, korban berusaha menyeberangi Sungai Cidurian. Namun, ia terlambat menyelamatkan diri karena derasnya arus sungai yang juga memorakporandakan Desa Kalongsawah.

Berdasarkan data Kecamatan Jasinga, ada sembilan desa dan 9.768 orang yang terdampak banjir dan longsor. Dari sembilan desa tersebut, Desa Kalongsawah salah satu yang terparah. Ada 1 korban jiwa, yaitu Hilman dan sekitar 116 rumah rusak dan tersapu air sungai.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.

Tiga korban belum ketemu

Sampai hari ini, tiga dari tujuh korban jiwa di Kecamatan Sukajaya belum berhasil ditemukan. Warga yang belum ditemukan itu adalah Amri (60), Sharoh (30), dan Cicih (8).

Baca juga: Korban Longsor Bogor Jalan Kaki Berjam-jam demi Makanan

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Tim gabungan dari Basarnas dan Polri masih mencari korban di Kampung Sinar Harapan, Desa Harkat Jaya, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (9/1/2020).

”Setelah perpanjangan waktu hingga 10 hari, kami belum berhasil menemukan jasad mereka. Memang medan pencarian cukup berat, terjal, dan tanahnya tebal. Apalagi beberapa hari pencarian cuaca buruk. Itu sangat memengaruhi kami karena harus hati-hati dengan kondisi tanah yang bisa bergeser dan ancaman longsor juga,” kata Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Jawa Barat Deden Ridwansyah.

Lokasi longsor di Kampung Sinar Harapan, tempat tiga korban yang belum ditemukan merupakan daerah perbukitan. Untuk masuk ke wilayah ini, hanya bisa dilalui jalan kaki. Kondisi ini menyulitkan petugas Basarnas dan polisi untuk menemukan korban.

”Alat berat jadi sulit masuk. Padahal, kami sangat membutuhkan alat itu. Jadi, kami maksimalkan tenaga dengan alat seadanya, seperti cangkul, sekop, dan mesin sedot air, untuk menyingkirkan tumpukan tanah,” ujar Deden. Tidak hanya itu, cuaca di lokasi kejadian kerap dilanda hujan deras yang membuat tim penolong harus bekerja ekstrakeras.