Olahraga Target Realistis untuk Emilia Nova

Atletik

Target Realistis untuk Emilia Nova

Kondisi pelari gawang, Emilia Nova, membuat tim pelatih realistis dengan target lolos ke Olimpiade Tokyo 2020. Sementara atlet lompat jauh, Sapwaturrahman, punya potensi untuk lolos jika mampu memperbaiki tekniknya.

Oleh
· 3 menit baca
KOMPAS/Adrian Fajriansyah

Atlet lari gawang putri pelatnas, Ken Ayu Thaya, berlatih beban di Stadion Madya Senayan, Jakarta, Selasa (14/1/2020). Tahun ini, target utama tim lari gawang putri adalah meloloskan Emilia Nova ke Olimpiade Tokyo 2020. Namun, langkah itu tak mudah karena batas waktu Olimpiade 2020 yang cukup tinggi.

JAKARTA, KOMPAS — Mengejar batas waktu Olimpiade Tokyo 2020 bukan perkara mudah. Dengan sisa waktu yang amat singkat, tim pelatih memilih target realistis untuk pelari gawang putri, Emilia Nova. Apalagi kondisi Emilia belum benar-benar pulih dari sejumlah cedera sejak tahun lalu.

Limit waktu lari gawang putri Olimpiade 2020 adalah 12,84 detik. Sementara irekor waktu terbaik Emilia adalah 13,33 detik saat meraih perak Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. Tahun lalu, waktu terbaik Emilia adalah 13,59 detik saat meraih emas Malaysia Terbuka 2019. Artinya, Emilia punya pekerjaan rumah cukup berat untuk mempertajam catatan waktu 0,5-0,8 detik untuk lolos ke Olimpiade ini.

Adapun periode kualifikasi Olimpiade Tokyo tersisa sekitar lima bulan hingga 29 Juni.

”Kalau mau jujur, berat untuk mengejar batas waktu itu. Tetapi, kami tetap tidak setengah-setengah menjalani kualifikasi. Kami tetap berusaha saja seoptimal mungkin,” ujar pelatih lari gawang PB PASI Fitri ”Ongky” Haryadi, di Jakarta, Selasa (14/1/2020).

KOMPAS/Adrian Fajriansyah

Pelari gawang putri andalan Indonesia, Emilia Nova, merayakan keberhasilannya memenangi final lari gawang 100 meter putri SEA Games 2019 Filipina di Stadion Atletik, New Clark City, Filipina, 9 Desember 2019.

Ongky mengatakan, kondisi Emilia masih 80 persen. Pelari gawang berusia 24 tahun itu masih merasakan cedera paha, lutut, hingga tumit yang belum sepenuhnya pulih. Dua bulan pertama tahun ini dirinya akan fokus pada pemulihan cedera.

”Kalau dipaksa untuk mengejar target Olimpiade dengan fisik seperti sekarang, kasihan Emilia. Hal itu bisa menghancurkan tubuh dan kariernya,” katanya.

Apalagi, karier Emilia masih panjang. Selepas Olimpiade, masih banyak ajang besar lain yang bisa diikuti, seperti SEA Games 2021 Vietnam, Asian Games 2022 Hangzhou, China, dan Olimpiade Paris 2024.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.

”Toh, usia Emilia masih muda. Kalau gagal lolos ke Tokyo, dia masih punya harapan lolos ke Paris 2024. Empat tahun lagi, usia Emilia sekitar 28 tahun. Untuk lari gawang, usia seperti itu justru usia matang. Rata-rata pelari gawang dunia baru meraih puncak prestasinya pada usia sekitar 30 tahun,” tutur Ongky.

Potensi Sapwaturrahman

Peluang lain untuk lolos Olimpiade ada pada atlet lompat jauh Sapwaturrahman. Pelatih lompat jauh PB PASI Arya Yuniawan Purwoko mengatakan, limit untuk nomor lompat jauh pada Tokyo 2020 adalah 8,22 meter. Adapun rekor terbaik Sapwaturrahman adalah 8,09 meter ketika meraih perunggu Asian Games 2018.

KOMPAS/Adrian Fajriansyah

Aksi pelompat jauh Indonesia, Sapwaturrahman, pada final lompat jauh putra SEA Games 2019 di Stadion Atletik, New Clark City, Filipina, 7 Desember 2019.

Tahun lalu, lompatan terbaik Sapwaturrahman adalah 8,03 meter ketika meraih emas SEA Games 2019 Filipina. Artinya, Sapwaturrahman harus meningkatkan kemampuan lompatannya 0,13-0,19 meter untuk lolos Olimpiade 2020. Namun, Arya optimistis Sapwaturrahman bisa mengejar target itu karena dalam latihan beberapa kali bisa melompat 8,20-8,30 meter.

”Melompat saat latihan dan berlomba berbeda. Saat latihan, melompat lebih tenang karena tanpa tekanan, sedangkan saat berlomba, ada tekanan yang sangat memengaruhi grafik atlet. Namun, hasil latihan itu menunjukkan Sapwaturrahman punya potensi,” ujarnya.

Arya menjelaskan, Sapwaturrahman punya kelebihan pada kecepatan dan teknik lompatan. Bahkan, atlet berusia 25 tahun itu punya kelebihan luncuran 1 hingga 1,5 meter pada setiap lompatan sehingga masih punya potensi meningkatkan jarak lompatannya.hingga 1meter lagi.

”Kekurangan Sapwaturrahman adalah pada timing saat mendarat di tumpuan lompat. Sering kali titiknya melewati garis batas tumpuan lompat sehingga lompatannya tidak sah. Kami sedang memikirkan teknik terbaik untuk Sapwaturrahman agar kelebihan kecepatannya bisa optimal saat sampai di titik tumpuan lompat,” kata Arya yang berharap Sapwaturrahman dapat kesempatan berlomba 2-3 kali lagi sebelum Olimpiade 2020.